ADS

Tuesday, 12 January 2016

MARIAH AL-QIBTIYAH



MARIAH AL-QIBTIYAH

Pada tahun ketujuh hijrah, Nabi SAW telah mengikat perjanjian damai dengan kaum Quraisy yang dikenal dengan nama “Perjanjian Hudaibiyah”, kemudian bagindapun kembali ke Madinah.
Setibanya di Madinah, baginda mendapati Hatib bin Abu Balta’ah sedang menunggunya di sana. Hatib telah diutus oleh Nabi SAW ke Mesir untuk membawa suratnya kepada Al-Muqauqis, Maharaja Mesir, untuk menyerunya memeluk Islam.
Hatib bin Abu Balta’ah menceritakan kepada Nabi SAW bagaimana dia datang kepada Muqauqis, dan membacakan surat baginda itu, bunyi surat itu adalah:
Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Dan Muhammad bin Abdullah, kepada Muqauqis maharaja Qibt. Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk!
“Adapun sesudah itu, maka sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah niscaya kau akan selamat, nanti Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Jika kau mengingkarinya, maka kau akan menanggung dosa kaum Qibt. Wahai Ahlul Kitab! Marilah pada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwasanya kami tiada menyembah melainkan Allah, dan kami tiada mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun jua, dan tiada mengambil yang lain menjadi Tuhan selain dari Allah. Dan jika mereka tiada mau menurut, maka katakanlah: saksikanlah kamu, bahwa kami ini orang-orang muslim”. Maka berkata Muqauqis kepada Hatib, “Memang aku sudah tahu, bahwa akan ada lagi seorang Nabi. Aku menyangka dia akan muncul di negri Syam, sebab di sanalah tempat munculnya semua para Nabi. Rupa rupanya, dia telah muncul dibumi Arab, ... apa yang mesti aku perbuat? sebab orang-orang Qibt ini tidak akan menurutiku”.
Kemudian Muqauqis memanggil penulisnya, dan dia minta dituliskan suatu surat kepada Nabi SAW, isinya dalam surat itu sebaigai berikut:
“Adapun sesudah dari itu, aku telah membaca surat anda itu, dan aku faham siapa yang anda maksudkan itu. Dan apa yang anda seru kepadanya. Sebenarnya memang aku tahu ada seorang Nabi yang akan tiba, dan aku menyangka Nabi itu akan muncul di Negri Syam. Aku telah memberikan penghormatan kepada utusan anda, dan aku kirimkan bersamanya dua orang jariah yang diberikan tempat yang mulia oleh orang-orang Qibt. Begitu juga dengan pakaian, dan kendaraan untuk anda menunggangnya, dan salam sejahtera atas anda!”
Hatib telah melaporkan kepada Nabi SAW. Segala hal yang dia alami sewaktu dia berada di Mesir sebagai tamu Raja Muqauqis itu. Kemudian Hatib menyerahkan hadiah yang diterimanya untuk Nabi SAW dan diantaranya Mariah yang sungguh menarik perhatian baginda, maka baginda mengambilnya, menjadi istrinya.
Mariah adalah putri Syam’un berbangsa Qibt. Dia anak dari kampung Hafn dari perkampungan Shai’d di Mesir. Ibunya berbangsa Roman, oleh karena itu Mariyah kelihatan rupawan dan putih kulitnya, rambutnya bergelombang, wajahnya manis. Raja Muqauqis telah mengirimkannya dengan saudara perempuannya yang bernama Sirin sebagai hadiah kepada Nabi SAW. Menurut riwayat, bahwa Hatib telah menyeru keduanya masuk Islam dalam perjalanannya ke Madinah. Mereka telah masuk Islam ditangan Hatib tadi.
Rasullullah tidak membawa Mariah ke rumahnya, namun baginda Nabi SAW menumpangkannya di rumah Harisah bin An Nu’man. Kemudian baginda pergi mendatanginya dan senang mendengarkan cerita-ceritanya yang menarik itu, Mariah sangat senang menceritakan kisah-kisah sejarah, terutama sekali tentang negeri Mesir yang kaya tentang cerita-cerita yang mengharukan serta memikat hati. Dia juga mengulang-ulangi kisah Siti Hajar, yang berasal dari negeri Mesir, yang dihadiahkan oleh Rajanya kepada Siti Sarah. Kemudian Siti Hajar berlayar dari negri sungai Nil dengan ditemani oleh Nabi Ibrahim as, dan seorang anak yang bernama Ismail. Kemudian diceritakan pula bagaimana Nabi Ibrahim as telah meninggalkan Siti Hajar bersama anaknya di samping rumah Allah, atau Baitul Atiq, di sebuah lembah yang tiada tanaman padanya.
Mariah senantiasa mengharapkan perlindungan dari langit. Dia senantiasa mengingat kisah yang sama seperti kisah Hajar, malangnya hal itu telah membangkitkan rasa cemburu dalam diri istri-istri Nabi yang lainnya. Akan tetapi disana ada suatu perbedaan antaranya dengan Siti Hajar, yaitu dia tidak mempunyai anak. Dan usia Nabi SAW kini telah hampir mencapai 60 tahun, apakah bisa dia memperoleh seorang anak dari baginda Nabi SAW untuk mencapai impiannya itu.
Mariah tidak mendapatkan julukan “Ummul Mu’minin” karena dia bukan seorang istri yang dinikahi oleh Nabi SAW, namun dia adalah seorang gundik (Jariyah) yang dinikahi oleh Nabi SAW dengan milik Yamin. Nabi SAW telah mencampurinya dengan hak milik Yamin itu. Dan Nabi SAW telah meletakkan hijab atasnya, dan merasa tidak khawatir dengan kedudukannnya. Karena itu, Mariah menyediakan seluruh jiwa dan raganya untuk berkhidmat kepada Nabi SAW, baginda Nabi SAW dianggap oleh Mariah sebagai tuannya, temannya, suaminya, dan tempat menggantungkan hidupnya. Jadi, semua perhatiannya kini tertumpu hanya demi kesenangan baginda Nabi SAW dan keridhaannya. Dalam pada itu, lidahnya tidak pernah berhenti dari menyebut Siti Hajar, Ismail dan Nabi Ibrahim as.
Pada tahun kedua, ada tanda-tanda kalau Mariah akan mengandung. Setelah Mariah yakin dirinya telah mengandung, diapun tenggelam dalam keberkahan impiannya yang selalu bermain di dalam hatinya itu. Dan kini dia tahu, bahwa langit telah mengabulkan cita-citanya yang selala ini bermain di dalam lintasan fikirannya.
Tatkala hal ini diketahui oleh Nabi SAW, diangkatnya kedua belah tangan ke langit tanda kesyukuran kepada Allah yang telah menganugerahkan hadiah-Nya. Sesudah baginda kehilangan putri yang disayanginya, yaitu Zainab, dan sebelumnya telah kehilangan pula anak-anaknya Ruqoyyah, Ummi Kaltsum, Abdullah dan Al Qasim.
Nabi SAW teringat pula mengenai kisah Nabi Ibrahim as yang selalu diulang-ulang oleh Mariah, kemudian tentang kisah Zakariya, yang digembirakan oleh Allah untuk mendapatkan seorang anak, padahal usianya telah terlalu lanjut, Allah telah berfirman dalam surah Maryam:
 “Dia berkata: Bagaimana aku akan memperoleh anak laki-laki, sedang perempuanku mandul, dan aku pula sudah sampai pada usia yang sangat tua” (Maryam: 8).
“Dia menjawab: Begitulah kejadiannya. Tuhanmu telah berkata: Itu buat Aku adalah perkara mudah, dan sebenarnya Aku telah menciptakanmu sebelum ini, dan kau sebelum itu tidak ada” (Maryam: 9).
Berita Nabi akan memperoleh seorang anak dari Mariah telah tersebar merata di kota Madinah. Berita itu juga bagaikan Halilintar yang datang menyambar telinga istri- istri Nabi yang lain, yang tidak mendapat anak, Nabi merasa khawatir terhadap Mariah, lalu dipindahkannya ke sebuah kampung di luar kota Madinah, di sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan Aliyah. Nabi sering datang ke sana untuk menanyakan berita dan keadaannya.
Pada suatu malam pada bulan Dzulhijjah, tahun ke-8 hijrah, datang kepada baginda Ummi Rafik, seorang dukun untuk membawa berita gembira kepadanya, bahwa baginda telah mendapatkan seorang anak lelaki, Nabi sangat riang, ketika diberitahu tentang berita itu, lalu baginda memberi Ummi Rafik hadiah, serentak sesudah itu baginda tergesa-gesa pergi kerumah Mariah untuk menyampaikan tahniyah kepadanya, baginda lalu menimang anak itu di kedua belah tangannya, dan dinamakan anak itu Ibrahim.
Perasaan cemburu dan iri hati semakin menjadi-jadi di antara istri-istri Nabi terhadap Mariah, sesudah dia mendapatkan dari Nabi seorang anak lelaki yang bernama Ibrahim, mereka lalu sengaja menuduh Mariah dengan tuduhan yang seorang untuk memperkecilkan kedudukannya serta menimbulkan fitnah supaya orang memburuk-burukkan namanya.
Diantara cerita iri hati istri-istri Rasulullah terhadap Mariah itu, memang pernah terjadi suatu masa, ketika Siti Hafsah tidak ada di rumahnya, lalu baginda telah meminjam rumahnya untuk baginda bersenang-senang dengan Mariah di situ, ketika Siti Hafsah mengetahui hal itu, amarahnya naik, dan dia tidak mau melepaskan baginda melainkan sesudah baginda mengharamkan dirinya atas Mariah. Dari peristiwa itu, turunlah ayat dan Surah At-Tahrim, dimana Allah telah menegur baginda atas pengharaman dirinya terhadap gundik yang dihalalkan oleh Allah kepadanya.
Mariah tetap bersabar atas segala tuduhan yang dilemparkan orang terhadap dirinya. Dia telah merasa gembira dengan anaknya yang baru lahir, sehingga dia tidak ada waktu lagi baginya untuk memikirkan hal-hal lain, dia duduk sendirian dengan anaknya, manakala Rasulullah SAW senantiasa datang kepadanya untuk menziarahinya.
Malangnya kebahagiaan Mariah pada anaknya itu tidak kekal, tidak beberapa lama Ibrahim jatuh sakit, padahal dia belum putus menyusu, dan usianya belum genap 2 tahun. Sakitnya semakin hari semakin parah. Suatu hari, Nabi SAW cepat-cepat datang ke rumah Mariah, karena Ibrahim sedang sakit parah, baginda memangku Ibrahim, sedang nafasnya turun naik menghadapi maut, di sekelilingnya terdengar tangisan ibunya dan bibinya, tidak lama sesudah itu, Ibrahim pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ketika Ibrahim meninggal dunia, Nabi SAW menundukkan kepalanya ke tubuh Ibrahim, lalu menciumnya, sedang air matanya jatuh berderai mengalir dari kelopak matanya. Dia berkata, “Wahai Ibrahim! kalau tidak karena perkara mati itu pasti, dan janjinya (ajalnya) benar, dan bahwasanya yang terkemudian akan mengikuti jejak yang terdahulu, niscaya kami akan amat berduka cita terhadap perkara ini, dan sebenarnya kami merasa sedih terhadap kepergianmu, Wahai Ibrahim!”.
Ketika mayat anak kecil itu dimandikan orang, Nabi tetap disampingnya, duduk melihatnya dalam keadaan sedih dan pilu, sesudah itu mayatnya dibawa untuk dikebumikan di Baqi’. Setelah di Baqi’ baginda mengangkatnya dengan tangannya yang mulia, lalu meletakkannya ke dalam kubur, kemudian ditimbunnya kubur itu dengan tanah, sehingga menjadi rata, lalu disiramkannya dengan air.
Nabi memendam luka hatinya karena kepergian Ibrahim itu dengan bersabar atas taqdir dan ketentuan Allah SWT.
Rupa-rupanya, hari-hari yang tersisa sesudah kepergian Ibrahim itu tidak panjang lagi. Ketika tiba bulan Rabi’ul Awal dan tahun yang berikutnya, baginda Nabi SAW wafat pula.
Mariah pun tinggal kesepian selama lima tahun sesudah wafatnya baginda Nabi SAW, dia terus bersedih dan menangis, tinggal jauh dari orang ramai, dia tidak pernah keluar dari rumahnya, melainkan hanya menziarahi kubur Nabi di dalam Masjid, dan menziarahi kubur anaknya di Baqi’.
Sayyidina Abu Bakar As-Shidiq r.a mencukupi segala keperluan Mariah sesudah wafatnya Nabi SAW, hingga beliau meninggal dunia. Sesudah itu disambung oleh Sayyidina Umar bin A1-Khattab, sehingga Mariah meninggal dunia pada tahun ke-16 hijrah. Jenazahnya disembahyangkan oleh Khalifah Umar, kemudian dikebumikan di pemakaman Baqi’.

0 komentar:

Post a Comment